Selasa, 25 Oktober 2011
Tragedi Angin Kencang 26 Oktober
Ini adalah ceritaku. Pada pukul 11.00 Bu Nanik mengajariku Kimia. Kemudian aku mendengarkan pelajaran kimia tentang termokimia. Seorang teman sebangkuku yg misterius bernama Bayu membuat sebuah boneka ajaib dari kertas tisu dng bantuan seseorang yg misterius bernama Afif. "Dia membuat sebuah boneka Pocong" dng 3 lembar kertas tisunya. Sang Bayu membuatku merinding. Kemudian dia membuat sepasang mata dengan warna merah. Saya kemudaian tidak peduli dng itu, & saya konsentrasi pada pelajaran. Tiba2 boneka yg dibuat itu mengejutkan Eno, dng jahatnya Mughni mengutuk Eno dng Boneka pocong itu. Tapi untunglah dia tidak apa2. Kemudian aku diberikan boneka tersebut, tiba2 aku merasa aneh dng boneka itu. Matanya yg merah dan menakutkan. Tapi untunglah aku tidak apa2. Tiba2 boneka itu menunjukkan diri dari tanganku menuju Novi. Novi melihatnya & dia sangat ketakutan. Tiba2 pocong itu menuju Novi. Dia, Novi menjerit ketakutan seakan-akan terkena kutukan dari si Pocong. Semua mata di kelas itu melihat Sang Novi yg ketakutan. Saya merinding melihatnya karena saya adalah salah satu orang yg dekat dengan bangku duduknya. Tiba2 Iin segera menumpas sang pocong tersebut, dan membuangnya di Suatu Tempat Yg Terbuang. Oh Iin Our HERO, semoga Iin memperoleh kebaikan. Tapi aku melihat Ayik sendakep di mejanya yg pas keberadaanya di belakang saya. Sepertinya Jiwa dari pocong itu diambil dari Ayik. Sungguh jahat Afif yg telah mengorbankan Jiwa Ayik itu. Tiba2 jam 12.45 ANGIN RIBUT tiba di sekolahku. Aku sungguh takut, dan petir menyambar-nyambar bagaikan Seorang Deep Colector yg teriak2 manggil orang untuk bayar utang!!! Jam pelajaran ganti pak Akhmalul menggantikan bu Nanik untuk mata pelajaran b.inggris. Tiba2 Hujan Datang. Angin berhembus kencang, setelah pak Akhmalul duduk di Singgasananya, dia mengucapkan suatu Kalimat yg tidak pernah kulupakan "Saatnya Remidi!". Sungguh kami semua di kelas itu merasa Kaget dng ucapanya bagaikan Pedang Samurai yg menyayat monster. Kemudian beliau memanggil siswanya untuk memberitahu berapa nilainya. Dia memanggil Iza dulu, tapi untunglah dia tidak apa2. Kemudian akau dipanggil, bagaikan aku dipanggil untuk bertempur di suatu medan Perang. Tiba2 aku melihat 2 digit angka yg pertama 7 & yg kedua 5. Syukurlah aku tidak apa2. Tapi kasihan Mughni yg dipanggil setelah aku duluan. Dia memperoleh REMIDI. Akhirnya panggilan dilanjutkan dari Iza sampai Firda. Aku tidak tahu berapa jumlah yg remidi & tidak remidi, bagaikan mengitung & menghafal nama bintang2 di langit.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
nulis apaan ini???? siliiddd hahaha gak nyambung sma judulnya
BalasHapus